Friday, 13 July 2007

Negeriku yang Tandus

DAHULU kami hidup dengan tenang, sampai pada suatu ketika bapak kehilangan tanah – tempat dimana beliau selalu mencangkuli permukaan humusnya. Dulunya di pagi Minggu, aku, bapak, emak dan adik Tyo acapkali pergi ke ladang di belakang rumah yang jaraknya tak lebih dari lima ratus meter saja. Konon tanah itu tidak ada yang tahu siapa empunyanya. Bahkan sejak kami belum datang dan menetap, para tetangga sudah ada yang membuka lahan di sana. Jadi bapak pun berinisiatif untuk ikut berladang. Walaupun sekadar menanami ladang dengan tiga puluh sampai empat puluh rumpun Sahang saja, ditambah lagi dengan beberapa batang tomat, cabe dan tanaman kacang-kacangan.
”Lumayan untuk menambah bumbu dapur,” kata Bapak ketika memulai berladang dulu.
Setiba di ladang, biasanya aku tidak langsung membantu Bapak menyiangi rumput ataupun memetik buah tomat yang telah ranum dan cabe-cabe yang begitu memerah. Kebiasaanku setiba di ladang selalu menghampiri sebuah kolam terlebih dahulu. Oleh warga di kampung kolam itu lebih dikenal dengan sebutan kolong. Di kolong aku akan memasang beberapa rawai di sudut-sudut yang telah kukenali sebagai markas para ikan.
Kolong bagi warga bukan sekedar kolam yang ditinggalkan akibat dari penambangan timah darat puluhan tahun silam. Dari kolong juga kami memperoleh sumber air – tempat kami mandi dan mencuci pakaian. Bahkan kerabat kami di barat kampung, telah memanfaatkan kolong menjadi tempat pembudidayaan ikan dengan menggunakan jaring apung. Hasilnya pun cukup untuk dinikmati warga kampung dan dijual di pasar inpres.
Kolong yang jumlahnya lebih dari seratus - bukan hanya menjadi lukisan indah di tanah negeriku. Betapa tidak, ketika bapak kelelahan habis mencangkul. Kolong adalah sasaran tubuh kekarnya untuk sekedar berendam dan membersihkan keringat.
Tanah negeriku sebenarnya tidak bisa merubah tongkat menjadi tanaman, tidak juga kayu ataupun batu. Namun, tanah negeriku bisa mendatangkan sepiring nasi dan pakaian bagus bagi sebagian penghuninya. Bahkan alat komunikasi secanggih ponsel pun bisa didatangkan oleh tanah. Lantaran kehebatan itulah, sekelompok manusia menjadi gila untuk terus memburu tanah ke setiap hamparan negeri yang sebenarnya telah lama ditinggalkan peri-peri dongeng pulau timah.
Aku menjadi aneh saja, lantaran orang-orang aneh itu dengan gagah dan tanpa bersalahnya nebang utan adet. Padahal sejak dulu, aku mendengar dari cerita Atuk Jum yang menjadi pemangku adat suku Pacor, dimanaadat telah mengajarkan untuk tidak melakukan perbuatan yang akan bermuara pada bencana bagi warga kampung.
”Nebang Utan Adet, pasti akan membuat murka penguasa tanah aeik. Bila itu terjadi kita akan mendapat wabah penyakit ataupun bencana”. jelas Atuk Jum. Aku terdiam sesaat lalu kulontarkan pertanyaan yang barangkali akan dijawab Atuk.
”Tapi kok kita semua yang akan menderita?”
”Iya Cuk, penguasa tanah aeik tidak akan memilih siapa yang layak menerima bencana dan siapa yang tidak. Semuanya sama saja karena dianggap telah lalai menjaga tanah. Akan tetapi kita bisa menghentikan kemurkahan itu.” Dengan senyum diantara wajah keriputnya, lelaki yang telah berusia tujuh puluhan itu menatapku dalam.
”Benar ya, tuk?” tanyaku penasaran.
“Benar. Untuk itu kita mesti mengadakan ceriak yang semua bianyanya ditanggung oleh warga. Apabila setelah diadakan ceriak ternyata bencana masih datang juga. Kita harus mengadakan upacara rateb saman.” Aku kembali terdiam bersama Atuk yang mulai menggiling tembakau di kertas rokok.
Kegilaan orang-orang aneh itu, cukup beralasan. Setahuku memang setiap jengkal tanah di negeriku begitu bernilai. Butiran pasir hitam yang tidak lain adalah timah, merupakan sumber nafkah utama mereka. Tak heran bila demi mengisi perut, maka perut negeri pun terpaksa dikuras dan terus dikuras. Hingga humus di atasnya berganti hamparan pasir. Bila butir hitam ditanah itu telah habis, dengan santainya mereka menyelipkan puluhan uang ratusan ribu ke saku orang-orang aneh lainnya di ibu kota. Setelah semuanya tenang, mereka akan kembali menjalankan mesin pompa yang menyedot pasir dari kolong kolam di tanah berhumus lainnya. Hingga pada suatu saat – di suatu siang mesin itupun singgah di tempat Bapak biasa mencangkul.
Dengan keperkasaanya mesin pompa menyemburkan pasir yang sebelumnya melewati pipa paralon. Pasir-pasir itu kemudian tertampung di dalam bak kayu. Dengan menggunakan batang kayu, satu dari sekelompok orang aneh itu memisahkan butiran hitam dari kubangan. Kini rumpun sahang ataupun merahnya cabe mulai berganti warna. Bapak yang melihat tanah cangkulannya teraniaya hanya bisa terdiam. Tak ada yang bisa dilakukan bapak ataupun orang-orang yang membuka ladang disana. Tak ada tuntutan ataupun berkas acara, karena tanah dimana kami meladang selama ini hanyalah tanah tanpa bertuan dan apabila ada pihak lain yang datang dengan kertas bersegel, kami hanya bisa diam dan meratapi dalam hati.
”Cukuplah, semuanya kita kembalikan kepada Allah!” begitulah Bapak bersuara sembari membalikan tubuh dan tidak pernah berniat melihat ke belakang lagi.
Lelaki bertubuh jangkung, dengan kulit sawo matang itu terus berjalan. Sesosok tubuh mungil yang tak lain adik Tyo mengikuti bapak dari belakang. Dari tatapan mata Tyo kulihat kebencian pada mesin dan pipa-pipa paralon yang memanjang memagari ladang yang kini berubah fungsi. Dikeluarga kami, bapak tak pernah mengajarkan kebencian pada sesama manusia. Alhasil wajar bila kemudian Tyo pun melampiaskan kebenciaanya pada dua benda mati tersebut.
”Bang, kenapa mesin dan pipa diciptakan?” tanya Tyo sekembaliku kerumah.
Belum mulut ini mau menjawab, satu pertanyaan kembali dilemparkan Tyo, ”Emangnya mesin dan pipa-pipa itu diciptakan untuk merusak tanah seperti yang Tyo lihat tadi yah?”.
Aku sebagai abangnya, terdiam menyaksikan parade kata-kata yang dimainkan oleh seorang anak yang baru tahu mengeja huruf dan menghitung dari satu sampai seratus itu.
”Tyo, mari sini belajar dulu!” panggil emak kemudian.
Pertanyaan Tyo benar-benar membuatku semakin tak mengerti tentang jalan pikiran sekelompok orang aneh itu. Dari balik kaca jendela kamar, kulihat tiang-tiang kayu yang ditancapkan sebagai penyanggah bak papan pemisah pasir timah.
****
Dua hari sudah sekelompok orang aneh itu membabat habis ladang-ladang kami. Mulai dari rumpun sahang, merah cabe, tomat, bijur ataupun pucuk ubi mulai menghilang dari ruang di bola mata kami. Bahkan nyanyian Murai Batu yang setiap paginya menyejukkan gendang telinga, kini berganti dengan suara gemuruh mesin tambang. Parahnya lagi mesin itu terus aktif sampai malam.
Pagi Minggu ini, tidak seperti biasanya. Bapak tampak malas-malasan sembari membaca koran di teras rumah bersama secangkir kopi buatan emak. Di ruang tengah kulihat dengan jelas Emak sedang menambal celana main Tyo yang telah berlubang dibelakangnya. Sedang Tyo asyik menonton film Doraemon dengan berselimut sarung bekas khitananku dulu. Pagi Minggu ini benar-benar aneh. Aku kemudian berjalan menuju gudang, kupandangi perlengkapan rawai disudut, ia tergelatak begitu saja – tidak seperti hari Minggu-minggu sebelumnya yang selalu mengiringi pagi kami yang akan berladang di tanah belakang.
Jam menunjukkan pukul setengah sembilan, kuambil rawai dan perlengkapan berladang lainnya. Aku kemudian menapakkan langkah melewati rimbun dan hijaunya batang resam. Tujuan akhirku adalah kolong dibelakang ladang. Tetapi sebelum sampai di tempat itu aku mesti menyeberangi jembatan parit yang terbuat dari kayu pelawan dulu. Setiba di tanah yang dulunya kukenali sebagai tempat rumpun Sahang, tak banyak yang bisa dinikmati mataku, kecuali hamparan padang pasir yang meluas hingga ke ladang mang Darkum, mang Umar, mang Suep dan mang Didin.
”Selamat tinggal keindahan hijau rumpun sahang!” batinku berkata.
Hamparan padang pasir itu nampak kosong, tak ada penghuni lain kecuali diriku dan pipa-pipa paralon. Maklumlah di hari Minggu, orang-orang aneh biasanya libur menambang dan mereka pergi ke pasar untuk menghabiskan uang yang didapatkan dari membalikkan humus menjadi pasir. Aku kembali berjalan menuju kolong, tak berapa lama yang kutemukan justru kubangan cokelat dengan sisa minyak solar dipermukaannya. Sejenak kulemparkan pandangan ke seluruh penjuru. ”Tak ada kolam lain!” gerutuku dalam.
Mataku terus mencari kolam berair jernih – ditumbuhi teratai putih serta rumpun-rumpun hijau tanaman air dan beberapa komunitas enceng gondok yang tertata rapi di sudut kanan kolam. Namun sampai lima menit lamanya, kolam yang oleh anak-anak kampung dinamai dengan kolong ijo tak kutemukan. ”Mungkin tak akan pernah bisa kutemukan lagi.” Walau demikian, aku masih saja memasang rawai seperti biasanya, disebagian utara dan sebagian barat yang masih menampakkan kegairahan para ikan untuk bercanda. Memang kolong ijo sudah tampak berwarna kecokelatan tapi masih ada disebagian tubuhnya belum terkontaminasi sisa-sisa minyak solar mesin.
Begitulah nasib kolong di negeri ini, bila tanah disekitarnya telah berganti fungsi, maka dirinya pun ikut mendapatkan sentuhan. Cokelat di kolong ijo, merupakan hasil make over dari orang-orang aneh. Dengan gagahnya mereka mengalirkan limbah penambangan dari camui ke tempat yang lebih besar lagi, dan kolong ijo menjadi pilihan mereka.
Matahari telah tepat diatas ubun-ubunku, sayup-sayup alunan azan mulai menghampiri indera pendengaran. Setelah semuanya rawai selesai – pada posisinya masing-masing, aku kembali kerumah. Kembali kulewati jalan yang sama, namun dari kejauhan terlihat ramai orang mendatangi rumahku. Langkah kaki tanpa dikomando langsung bergerak cepat.
”Ada apa?” tanyaku ngos-ngosan.
“Adikmu, kena tulah dari penguasa tanah aeik” jawab Atuk Jum singkat.
“Haaaa?” aku tersudut lemas di pinggiran bufet. Kuperhatikan sekujur tubuh Tyo telah ditumbuhi bintik-bintik besar berwarna merah. Bapak dan emak terus berzikir, sementara Atuk Jum terus mengusap rambut Tyo dengan air dari gelas ditangannya. Aku tak habis pikir, tadi pagi Tyo masih sehat-sehat saja, bahkan dengan asyiknya menyaksikan tontonan favoritnya.
”Sepertinya penguasa tanah aeik telah murka!” kata Atuk memecah keheningan.
”Kok bisa?” tanyaku polos.
”Iya, penguasa tanah aeik marah lantaran ada yang berani mengusik wilayah utan adet. Tanah dimana bapakmu dan orang-orang kampung lainnya berladang, dulunya merupakan wilayah utan adet suku Pacor. Akan tetapi karena selama ini terus kalian jaga dengan menanami rumpun Sahang, maka terjagalah keseimbangan antar dunia. Tapi sekarang semua telah berubah, tidak ada lagi tanah humus dan rumpun sahang” jelas Atuk. Aku belum terlalu mengerti apa yang dibicarakan atuk, ”Keseimbangan antar dunia, apa maksudnya”
”Lalu apa yang harus kita lakukan agar tidak kena tulah dari penguasa tanah aeik lagi?” tanya mang Darkum kemudian.
”Seperti aturan adat, kita mesti mengadakan ceriak. Apabila setelah diadakan ceriak ternyata bencana masih datang juga. Kita harus mengadakan upacara rateb saman”
”Ceriak?”
”Ya benar ceriak!” sambut kakek-kakek disebelahku.
”Tetapi sebelum kita mengadakan ceriak, kita bakar saja tambang dibelakang yang telah menjadi awal kemarahan penguasa tanah aeik!” Mang Darkum kembali bersuara.
”Iya, kita bakar saja” sambut yang lainya sembari menganggukan kepala.
”Jangan, kita berbuat seperti itu” suara berat bapak mencairkan suasana. Orang-orang kampung yang tadinya telah naik pitam, kini kembali reda. Mereka kemudian mendengarkan perkataan Atuk. Menjelang Ashar, mereka semuanya meninggalkan rumahku.
Kini tinggallah aku, bapak dan emak yang terus menjaga Tyo. Bagi kampung kami, antara adat dan agama adalah dua sisi yang saling berdampingan, melayu islam yang menjadi pegangan orang-orang kampung tidak bisa dilepaskan dengan aturan adat. Oleh karenanya aturan adat tetaplah aturan adat yang mau tidak mau harus kami jalankan.
Kudekati tubuh Tyo yang sudah dipindahkan dari ruang depan ke kamar emak, suhu bahannya sudah tidak tinggi lagi seperti pertama kudatang, bercak merah ditubuhnya pun sudah semakin mengecil. ”Itu tandanya tulah telah hilang dari tubuh adikmu.” bapak mendekatiku yang duduk dipinggiran dipan. Baju Tyo yang kubuka segera kurapikan kembali. Melihat Tyo tak berdaya akibat ulah orang-orang aneh yang membawa murka penguasa tanah aeik, emosi benar-benar tak bisa tertahan lagi. Napasku begitu cepat, degup jantung memompa darah cepat. Bapak yang memperhatikan sedari tadi langsung merangkul tubuhku yang kurus dengan tangan-tangan kekarnya.
”Sudahlah jangan kau pikirkan!” ujar bapak kemudian.
Aku hanya mengiyakan, lalu aku bergegas keluar menuju pintu belakang, emak yang melihatku segera memanggil.
”Mau kemana?”
”Ke kolong sebentar” jawabku.
Aku memang berniat mendatangi lokasi penambangan itu, dan aku ingin sekali berulah. Tetapi setiba di tanah berpasir. Hamparan padang itu, kini tampak lebih ramai dengan telapak-telapak kaki yang membekas di pasir, bersama lenyapnya pipa-pipa paralon dan peralatan tambang lainnya. Tak ada tiang-tiang tinggi penyanggah yang menjulang karena tiang itu kini telah ditidurkan ditanah tak berhumus, ”Tapi kapan yah?”. Tak habis-habisnya kupandangi sekeliling, tak ada seorang manusiapun kecuali diriku disana.
Kornea mataku terus memandangi sekeliling. ”Tanah berpasir dan kubangan coklat di kolong, yah hanya itu yang ditinggalkan orang-orang aneh. Entah kemana lagi mereka setelah dari sini?” aku terduduk memandangi negeriku yang tak lagi bertanah humus – berdaun hijau dan berair jernih.



Keterangan :
* rumpun sahang = sebutan untuk tanaman Lada
* menyiangi = memotong
* kolong = lubang eks galian penambangan timah darat yang menyerupai danau
* rawai = salah satu metode pemancingan ikan dengan meninggalkan pancing selama beberapa jam (biasanya lebih dari 4 jam)
* nebang utan adet = menebang hutan dalam kawasan adat suatu suku
* atuk = kakek * suku pancor = suku ini berada di kampung Pelagas, Simpang Gong, Simpang Tiga, Kundi, Simpang Teritip sebagian dan Peradong sebagian. Yang termasuk dalam wilayah Bangka Barat
* penguasa tanah aeik = penguasa suatu tempat
* cuk = cucu * ceriak = upacara adat yang bertujuan membersihkan kampung dari bencana
* singgah = mengunjungi
* bang/abang = panggilan untuk kakak laki-laki
* bijur = ketela rambat
* resam = sejenis tanaman perdu, biasanya isi batang resam dijadikan bahan pembuat kopiah (peci)
* camui = lubang pembuangan limbah penambangan rakyat.
* tulah = ganjaran
* buffet = lemari pajangan
* dipan = tempat tidur

Thursday, 12 July 2007

Kisah Singkatku

10 Juni 2006.
Dear Diary,
Hari ini hari ulang tahunku. Aku tetap sendiri seperti dulu. Hari ini aku ingin menulis tentang kisah hidupku. Kisahku ini bukanlah dongeng indah, tapi ini adalah kisah kehidupan, sebuah kehidupan nyata dan keras yang aku jalani. Sebuah kehidupan yang tidak semulus cerita-cerita novel dan cerpen yang selalu menonjolkan keindahan, kemewahan dan happy ending. Ini adalah ceritaku. Cerita yang belum berakhir. Cerita yang menunggu sebuah proses menuju akhir. Tanpa sebuah kepastian, tanpa sebuah harapan. Bagaimanapun ini adalah ceritaku, yang kutulis dengan mengandalkan segenap ingatan, air mata dan pengalamanku. Aku seorang cowok, dan aku adalah seorang penulis ! Jangan pernah berpikir bahwa cowok itu adalah makhluk yang selalu tegar menghadapi segala hal ! Ada kalanya aku juga menangis ! Menangisi cerita kehidupanku yang tidak seberuntung orang lain ! Cerita ini kutulis dengan bantuan teman setiaku, sebuah komputer butut yang kuperoleh dari hasil kerja kerasku. Komputer tuaku yang dengan setia, selalu membantuku menghasilkan karya-karya tulisku.
11 Juni 2006
Dear diary,
Saat ini aku ingin mengawali kisah hidupku dengan mengenang kenangan kejayaan kakek moyangku …
Aku bukanlah narsis, tapi ini adalah kisahku . . .Inilah riwayat keluargaku . . .
Riwayat Keluargaku
Cerita ini aku awali dengan cerita mengenai kakek moyangku, sebagai pembanding tentang betapa ironis jalan kehidupanku. Kakek buyutku, kakek dari ibuku, adalah seorang aristokrat jaman dulu. Seorang ningrat yang kaya raya di jaman Hindia Belanda. Kakekku, ayah dari ibuku adalah seorang arsitek jawatan gedung-gedung di kota Malang saat masa peralihan menuju masa kemerdekaan. Kakekku, ayah dari ayahku, juga adalah seorang wedana di sebuah Kawedanan di Jawa Tengah, juga hidup kaya raya. Semua adalah masa lalu, semua sisa kejayaan telah hilang akibat perang dan kerusuhan yang banyak terjadi di negeri ini. Tidak semua anak cucu hidup seberuntung mereka. Aku adalah salah satu contoh nyata yang hidup hingga saat ini untuk menceritakan kisahku. Biar saja orang menganggapku narsis, aku tidak peduli. Aku hanya ingin menceritakan kisah hidupku, berbagi kisah yang lebih banyak dukanya daripada kisah sukanya. Aku adalah penulis. Seorang penulis miskin yang hidup dalam imajinasi dan cita-cita idealismeku. Penulis yang bertekad untuk tetap tegak memandang ke depan menghadapi kerasnya dunia. Berusaha menghadapi kenyataan yang ada bagaimanapun kejamnya. Inilah kisahku.
Ayah dan ibuku terlahir dalam sebuah keluarga besar jaman dulu yang penuh kemewahan yang bahkan tidak pernah aku rasakan saat hidup di jaman merdeka seperti sekarang. Kakek-nenek buyutku dan juga kakek-nenekku hampir semuanya fasih berbicara dalam lima bahasa ; Belanda, Jerman, Inggris, Perancis dan Indonesia, serta ditambah lagi bahasa nenek moyang kami, bahasa Jawa. Namun lihat saja aku, aku hanya menguasai dua bahasa asing, Inggris, dan sedikit bahasa Perancis. Serta bahasa negeriku, bahasa Indonesia dan juga bahasa nenek moyangku, bahasa Jawa. Walau aku menguasai ketrampilan komputer, namun hal itu tidak banyak membantu untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu kehidupan keluarga kami.
30 Juni 2006
Dear diary,
Sudah lama sejak terakhir aku mengisi halaman-halamanmu dengan tulisanku. Telah lama aku merenung, telah lama aku melewati masa-masa sulit dalam hidupku . . .dan engkau tetap setia menemaniku, dear diary . . .
Hari ini aku ingin menuliskan dan menumpahkan segala pengalamanku di masa lalu. Pengalaman buruk yang begitu membekas dalam hati dan pikiranku. . . . .
Semuanya berawal dari sejak aku lulus sarjana . . . .Tahun 1998. . . .tahun yang penuh gejolak, tahun yang penuh harapan, dan tahun yang penuh kekecewaan . . . .
Saat itu, bertahun-tahun yang lalu, aku baru saja lulus sarjana dengan penuh semangat dan optimis menatap masa depan, berbekal IPK-ku yang melebihi rata-rata . . .
Namun, saat itu negeri ini masih rusuh, penuh pergolakan, politik dan ekonomi negeri ini sedang dilanda kegoncangan. Reformasi baru saja dikobarkan di mana-mana . . .
Lowongan kerja tidak bisa dijumpai dimana-mana. Banyak perusahaan yang kolaps. Kerusuhan dan penjarahan banyak terjadi di mana-mana . . . .
Kalaupun ada perusahaan yang membuka lowongan, posisi pekerjaan yang ditawarkan tidaklah sesuai dengan kemampuan dan profesionalisme keilmuwanku. Kemana pun aku melamar kerja, mereka tidak pernah memperhitungkan kemampuan dan keilmuwanku.
Walau akhirnya aku diterima bekerja, namun aku selalu bekerja di bawah tekanan, jam kerja yang panjang, gaji yang rendah disertai caci maki dan hinaan. Jauh sekali dengan segala apa yang aku impikan . . . . . .
Saat itu sedang marak rasialisme, banyak warga pribumi yang anti terhadap warga keturunan . . . .
Banyak perusahaan milik warga keturunan yang tetap berusaha bertahan tetap berdiri di tengah badai krisis politik dan ekonomi serta kebencian rasial. Dan sialnya aku bekerja di salah satu perusahaan milik warga keturunan itu . . . .
Akibatnya bisa dibayangkan, aku kemudian menjadi bulan-bulanan balas dendam para eksekutif dan pimpinan perusahaan yang notabene adalah warga keturunan yang kemudian menjadi semakin antipati terhadap kaum pribumi . . . .Aku adalah salah satu dari pribumi itu !
Di mana pun aku bekerja, satu hal yang menjadi kesimpulanku adalah bahwa perusahaan-perusahaan tempat aku bekerja dulu, hampir tak ada bedanya dengan perusahaan dagang VOC di jaman penjajahan dulu yang menganggap bahwa karyawan-karyawan pribumi hanyalah buruh-buruh murah terpelajar yang hanya pantas digaji rendah. Begitu banyak deskriminasi dalam hal gaji yang tetap berlangsung hingga saat ini yang hanya didasarkan semata-mata atas dasar golongan ras, nepotisme, koneksi dan relasi, dan bukannya berdasarkan atas kemampuan dan profesionalisme. Orang digaji bukan atas dasar kemampuan dan kepandaiannya, namun semata-mata hanya didasarkan atas jenis ras mana ia berasal, dari suku bangsa apa ia dilahirkan, dan agama apa yang ia peluk. Sakit hati ini rasanya bila mengingat hal itu semua. Aku tidak diperlakukan sebagai manusia dengan segala harkat dan martabatnya. Aku hanyalah sekedar alat dan budak perusahaan yang tanpa arti apa-apa dan tanpa penghargaan apa-apa.
“Aku ini manusia !”
“Bukan budak jaman kolonial !”
“Tidak berhakkah aku atas kehidupan yang layak ?”
“Tidak berhakkah aku untuk bisa memiliki barang bagus, pakaian bagus dan kehidupan yang layak ?”
“Aku juga manusia !”
“Walau pun aku pribumi, di jaman merdeka ini, tidak berhakkah aku atas nikmatnya hidup merdeka ?”
“Merdeka secara ekonomi ?”
“Merdeka secara intelektual ?”
“Merdeka sebagai manusia seutuhnya ?”
“Merdeka sebagai manusia yang beradab ?”
Setelah masa kontrak kerjaku habis dan tidak diperpanjang lagi, aku mencoba melamar kerja ke berbagai perusahaan. Namun memang dasar nasib, kemana pun aku melamar kerja, di mana-mana yang ada hanyalah perusahaan-perusahaan yang dimiliki atau dikelola oleh para pengusaha keturunan. Sangat jarang sekali perusahaan di negeri ini yang dimiliki dan dikelola oleh para pengusaha pribumi !
“Aku pribumi !”
“Aku bukanlah seorang rasis !”
“Aku adalah salah satu contoh keluarga multirasial !”
“Sanak keluargaku banyak juga yang warga keturunan (Tionghoa) dan juga Eropa !”
“Dan aku tidak pernah membenci atau membeda-bedakan mereka !”
“Namun mengapa aku yang justru akhirnya menjadi korban rasialisme ?”
“Banyak warga keturunan yang menggembar-gemborkan pembauran dan persatuan !”
“Banyak warga keturunan (Tionghoa) yang menentang keras rasialisme !”
“Namun mengapa mereka sendiri justru yang mempelopori rasialisme di dunia kerja ?”
“Hal ini benar-benar terjadi, bahkan hingga saat ini !”
Bertahun-tahun yang lalu, aku pernah mencoba melamar kerja ke sebuah perusahaan yang cukup bonafid di kota Surabaya, sebuah kota metropolis terdekat yang dapat dicapai dari kota kecil tempat aku tinggal. Semula aku cukup optimis untuk melamar ke perusahaan tersebut, karena pengumuman lowongan kerja yang dimuat di salah satu surat kabar terkemuka itu menyebutkan prasyarat pendidikan untuk posisi jabatan di perusahaan itu adalah pendidikan sarjana semua jurusan. Namun sungguh jengkel dan sakit hati aku dibuatnya, saat aku benar-benar dipanggil tes wawancara, ternyata kemudian aku ditolak mentah-mentah hanya karena aku seorang pribumi yang kebetulan beragama Islam. Aku dipanggil untuk mengikuti tes wawancara karena panitia HRD mengira aku adalah berasal dari suatu ras tertentu (Tionghoa), dan bukannya pribumi. Mereka hanya menilai aku dari nama akhirku, HANDOKO. Mereka mengira aku dengan wajah pucatku di foto yang hitam putih adalah bukan PRIBUMI. Saat aku dipanggil tes wawancara dan saat mereka melihat wajah asliku yang pribumi, mereka sempat terkejut karena mengira aku yang ada di foto hitam putihku adalah bukan PRIBUMI ! Dan mereka lebih terkejut lagi saat mengetahui bahwa agamaku adalah agama ISLAM !
Aku ditolak bukan karena kemampuan atau pendidikanku, namun karena aku adalah seorang pribumi, dan aku beragama Islam ! Sungguh mereka adalah orang-orang rasis !
“Apa salahku ?”
“Mengapa perusahaan seperti itu masih bisa berdiri di negeri ini, negeri para pribumi, dan negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam ?”
“Welcome to the real world !”
“Selamat datang di dunia nyata !”
Dunia di mana ternyata penjajahan belum benar-benar berakhir, penjajahan dalam bentuk dan versi yang berbeda ! Penjajahan dalam hal ekonomi dan budaya ! Suatu keadaan yang menyudutkan kembali kita sebagai kaum pribumi, bahwa kita adalah tetap warga negara kelas dua yang membuat kita semakin tersisih hanya karena kita pribumi dan hanya karena kita beragama Islam ?! Sebagai pribumi kita semakin tergusur di mana-mana. Tergusur dari tempat tinggal kita. Tergusur oleh para sarjana lulusan luar negeri. Tergusur oleh para tenaga kerja asing dan tenaga profesional asing hasil produk outsourcing yang nyata-nyata lebih dihargai mahal di negeri ini. Tergusur oleh konspirasi global kontra terorisme, di mana orang-orang yang beragama Islam semakin tersudut dan selalu menjadi kambing hitam !
“Aku pribumi !”
“Dan aku berusaha bertahan, menunjukkan eksistensiku !”
“Bahwa aku masih ada !”
“Bahwa aku masih hidup !”
“Aku seorang pribumi !”
“Aku seorang muslim !”
“Dan aku bangga atas hal itu !”
17 Agustus 2006
Dear diary,
Sudah sangat lama sejak terakhir kali aku mengisi halaman-halamanmu . . . .
Dengan segala uneg-unegku, segala protes sosialku . . .
Dengan segala ketidakpuasanku atas hidupku di negeri ini . . . .
Negeri para leluhurku . . . .
Sungguh ironis bila kubandingkan nasibku dengan nasib para leluhurku. Kalau mereka para kakek buyutku dan para kakekku saat mereka hidup dulu bebas pergi ke mana saja dengan cara berkuda atau bepergian dengan mobil Ford, VW dan Holden dengan dikawal oleh para jongos dan babu, aku sang cucu yang hidup di jaman merdeka seperti sekarang ini, kemana-mana cukup bermodal sepeda pancal dan kami sama sekali tidak pernah punya seorang pembantu. Kalau para kakek buyutku selalu berpakaian dari bahan pakaian terbagus dan bermutu terbaik, pakaian beskap lengkap dengan jam bandul dari emas, aku sang cucu yang hidup di jaman merdeka seperti sekarang cukup berpakaian kaos t-shirt murah, bercelana katun dan memakai sandal karet buatan Bata. Kalau nenek-nenek buyutku begitu gemerlap oleh perhiasan peniti emas, kalung berlian, cincin emas bermata jamrud dan safir serta gemar bermain piano, serta mendengarkan lagu keroncong di radio, atau musik klasik di gramofon, ibuku yang sederhana saat ini hanyalah memakai perhiasan imitasi saat pergi ke kondangan atau acara resmi peringatan tujuh belas Agustusan dan sudah cukup bersyukur bisa menonton acara sinetron di televisi atau sekedar mengikuti pengajian ibu-ibu di lingkungan perumahan tempat kami tinggal. Tiada gramofon ataupun piano. Tiada lagi cita rasa dan apresiasi seni yang tinggi seperti yang dilakukan oleh para leluhurku.
Kalau para kakek buyutku di akhir pekan terkadang berpesta dansa dengan nenek-nenek buyutku di souciteit, aku sang cucu, bahkan tidak pernah sesekalipun mengunjungi tempat hiburan yang namanya diskotik. Kalau kakek dan nenek dahulu setiap akhir pekan biasa mengajak putra-putrinya (termasuk ibuku) ke restoran mahal untuk makan-makan, aku sang cucu sekarang cukup menghabiskan malam minggu di rumah menemani ayah ibuku yang sudah berusia lanjut. Itulah perbedaannya. Kualitas dan kemewahan hidup keluargaku semakin mundur dan menurun dari generasi ke generasi. Memang kehidupan ini bagaikan roda yang berputar, namun haruskah dari generasi ke generasi kami semakin terpuruk jauh ke dalam kemiskinan, dan tak pernah ada harapan lagi untuk bisa berada di atas. Dan itulah yang sekarang aku alami. Kualitas dan mutu kehidupan bukannya membaik, namun justru semakin memburuk dari waktu ke waktu. Entah ini salah siapa, aku tidak tahu. Mungkin semuanya sudah menjadi garis nasibku. Kualitas sandang, papan, dan pendidikan yang aku alami lebih buruk dari kualitas sandang, papan, dan pendidikan yang dinikmati oleh para leluhurku. Aku tidak pernah sedikitpun merasakan bagaimana nyamannya hidup mewah serba berkecukupan, bagaimana enaknya berkeliling dunia, ataupun bergaya hidup borjuis. Seluruh masa kecil dan masa remajaku aku alami dengan penuh keprihatinan dan serba keterbatasan.
15 September 2006
Dear diary,
Keluarga kami, dari pihak keluarga ibuku adalah keluarga multirasial.
Bukan berarti kami tidak nasionalis, justru kami menghargai dan menghormati kebhinnekaan dan pluralisme. Kami menghargai keberagaman !
Akibat adanya penjajahan Belanda, yang membawa pengaruh tidak sedikit dalam hal mengenalkan budaya liberal dan pembauran, menyebabkan banyak terjadinya perkawinan campuran antar ras dalam keluarga kami. Kakek dan nenek yang merupakan paman dan bibi dari ibuku beberapa di antara mereka menikah dengan warga keturunan asing, mulai dari keturunan Eropa hingga keturunan Tionghoa. Demikian pula halnya dengan para sepupu ibuku yang menikah dengan warga keturunan Eropa maupun Tionghoa. Walaupun kami tetap memakai nama keluarga Jawa sebagai nama klan di awal dan akhir nama kami, namun yang membedakan keluarga kami yang Jawa asli dan sepupu-sepupu ibuku yang berdarah campuran adalah penampakan fisik dan wajah serta agama kami yang beraneka ragam. Banyak saudara-saudara sepupuku yang berwajah Eropa, Cina, dan Indo, dengan agama yang beraneka ragam, mulai dari Islam tulen, Islam penganut aliran Kejawen, Kong Hu Cu, Kristen, Katolik, maupun Budha.
Terkadang keluarga kami berkumpul dalam sebuah acara pertemuan keluarga, sekedar untuk berbasa-basi. Namun tetap semuanya basi, karena yang kaya tidak pernah mau ambil pusing untuk menolong sanak saudara yang hidup miskin seperti kami. Memang, kami tidak sepenuhnya miskin, namun bila dibanding dengan kondisi perekonomian rata-rata keluarga sepupu-sepupu ibuku, kami berada di bawah garis kemiskinan ! Banyak di antara saudara sepupu ibuku beserta keturunannya yang sekarang memilih bermukim di Eropa, dan Amerika, dan bisanya hanya pamer kekayaan dan kesuksesan hidup mereka di sana. Saat benar-benar dimintai tolong, tentu saja mereka dengan berbagai dalih dan alasan selalu saja ada alasan untuk menolak memberikan pertolongan. Banyak di antara sanak saudara yang hidup di luar negeri tersebut memang karena terpaksa mengungsi ke luar negeri akibat suasana politik yang tidak stabil di negeri ini, bahkan sejak puluhan tahun yang lalu. Pada sekitar tahun 1965-an, saat sedang ramai-ramainya kerusuhan rasial yang anti ras Eropa dan Tionghoa, banyak di antara sanak saudara kami yang terpaksa mengungsi ke Belanda, Swedia, hingga Amerika. Pada tahun 1998, saat terjadi lagi kerusuhan rasial di negeri ini, sebagian sanak saudaraku yang berwajah Tionghoa, walau bernama Jawa, tetap memilih mengungsi dan berpindah kewarganegaraan. Ada yang kemudian menetap di Amerika, dan ada juga yang menetap di Kanada. Namun dengan semakin hidup berjauhan, semakin luntur pula sikap tolong menolong antar saudara. Mereka yang sekarang hidup di luar negeri dengan penuh kemakmuran, hanya bisa pamer kekayaan dan kesuksesan tanpa sedikitpun keinginan untuk menolong sanak saudara yang masih saja hidup serba susah di negeri yang merdeka ini.
25 September 2006
Dear diary,
Harta peninggalan kakek buyut dan kakek moyang keluarga kami telah lama habis musnah akibat perang dan kerusuhan yang menyebabkan ayah ibu kami di masa mudanya selalu harus mengungsi dan menjual seluruh harta benda peninggalan nenek moyang kami, dan menyumbangkan sebagian besar daripadanya untuk kepentingan perjuangan demi membela negeri ini, negeri para leluhurku. Akhirnya yang sekarang tertinggal dari kami hanyalah kemiskinan dan kami hidup dari gaji pensiunan ayah sebagai seorang pegawai negeri yang sudah pensiun. Aku bisa lulus kuliah di tahun 1998 karena usaha kerasku untuk memperoleh berbagai beasiswa dan bantuan dana penelitian yang sambung menyambung terus mendukungku hingga aku lulus sebagai seorang sarjana, sarjana pertanian agribisnis, yang ternyata dengan gelar kesarjanaaku kemudian tidak laku untuk mencari pekerjaan yang layak dan terhormat. Aku lulus sarjana tepat saat krisis moneter tengah melanda negeri ini. Stabilitas politik dan ekonomi negeri ini saat itu begitu buruk, dan tak ada satu lowongan kerja pun untukku. Walau akhirnya aku memperoleh pekerjaan, namun bukan itu sebenarnya pekerjaan yang benar-benar aku impikan. Aku tetap bernasib buruk, aku hanya diterima bekerja dengan upah tak ubahnya sebagai seorang buruh ! Bukan sebagai seorang profesional dan tenaga intelektual ! Itupun hanya untuk masa kontrak kerja tiga bulanan hingga enam bulanan, sudah itu PHK ! Aku menganggur lagi ! Aku mencari kerja lagi ! Mendapat pekerjaan lagi, tetap sebagai seorang buruh dengan upah buruh ! Kemudian PHK lagi setelah masa kontrak kerja habis ! Melamar kerja lagi ! Dapat pekerjaan lagi ! Jadi buruh lagi ! Di-PHK lagi ! Sungguh capek aku menghabiskan bertahun-tahun hidupku hanya sebagai alat eksploitasi dan budak di jaman merdeka seperti sekarang ini ! Welcome to the real world ! Habis sudah uang tabunganku untuk melamar kerja dan terlalu sering berpindah pekerjaan di kota yang berbeda dan berpindah kos-kosan dari kota yang satu ke kota yang lain ! Semua ini akibat peraturan kontrak kerja dan adanya sistem outsourcing yang menyebabkan aku tak ubahnya sebagai kuli kontrak seperti halnya nasib bangsaku, kaum pribumi, puluhan tahun yang lalu saat dijajah Belanda ! Kalau dulu negeri ini dikuasai oleh VOC, sekarang tetap saja dikuasai oleh berbagai perusahaan kapitalis yang hanya memeras para karyawan dan tenaga kerja dengan upah kecil, jam kerja yang panjang dan tanpa jaminan kesehatan atau pun jaminan kesejahteraan bagi karyawan ! Itulah yang nyata-nyata pernah aku alami.
8 Oktober 2006
Dear diary,
Semenjak aku lulus kuliah, aku selalu dipermainkan nasib karena sering menjadi korban eksploitasi perusahaan-perusahaan kapitalis dengan jam kerja yang panjang, lembur yang tidak dibayar, gaji yang kecil dan masa kontrak kerja yang tiga bulanan hingga enam bulanan. Setelah masa kontrak kerja habis, aku di-PHK tanpa pesangon, dan aku kembali menganggur. Tapi aku terus selalu giat mencari pekerjaan di perusahaan-perusahaan yang lain. Uang tabunganku sampai habis untuk melamar kerja dan berpindah kos-kosan, karena terpaksa harus berpindah tempat indekos untuk mendekati lokasi kerja yang baru. Aku tetap miskin walau aku sudah bekerja selama bertahun-tahun ! Dan pada akhirnya saat umurku sudah menginjak tiga puluh tahun, tidak satu pun perusahaan yang mau menerima karyawan dengan umur setua diriku ! Akhirnya akupun miskin dan pengangguran ! Tak ada seorang cewek pun yang mau dekat dan menjadi pacarku setelah tahu bahwa aku miskin dan tidak bisa mentraktirnya makan-makan atau pun nonton film sambil pacaran di gedung bioskop !
“Biarin !”
“Aku gak peduli !”
“No Woman No Cry !”
“Aku tetap bisa hidup tanpa cinta !”
Aku berontak !
“Aku tidak mau menjadi manusia yang tidak berguna !”
“Aku tidak mau berpangku tangan !
“Aku tak mau berdiam diri dan hanya pasrah pada nasib !”
“Aku harus menjadi sesuatu !”
“Aku ingin menjadi penulis !” Maka Jadilah aku sebagai seorang penulis !
Sebagai penulis, aku tetap seperti dulu, miskin ! Tanpa banyak menghasilkan keuangan yang dapat benar-benar menopang hidupku ! Jauh di dalam hatiku, aku justru lebih miskin lagi ! Aku miskin kebahagiaan ! Selama ini aku hidup bagaikan robot tanpa jiwa ! Aku tidak punya waktu untuk kesenangan pribadi ! Percuma saja pacaran, toh nantinya para gadis akan langsung ngacir begitu melihat kondisi ekonomiku yang miskin ! Memang sudah menjadi tradisi dan budaya di negeri ini bahwa seorang wanita lebih banyak “meminta” dalam hal materi daripada “memberi” dalam hal materi. Bahkan walau dengan jargon emansipasi dan kesetaraan jender, kalau sudah menyangkut urusan duit, para cewek negeri ini tentulah akan lebih senang menerima dan dibayari daripada memberi dan membayari atau mentraktir si cowok saat kencan. Mereka akan dengan mudah melupakan prinsip kesetaraan jendernya ! Hal ini juga akan berlaku saat si cewek berbelanja di pusat perbelanjaan, sang cowok negeri ini tentu akan segera berubah fungsi menjadi seorang kuli panggul yang akan menenteng dan memanggul semua barang belanjaan si cewek. Jadi prinsip jender dan kesetaraan versi Indonesia tak ubahnya hanyalah sekedar lipstik, dan baru diperlukan untuk digembar-gemborkan untuk saat-saat yang benar-benar menguntungkan saja. Misalnya saja, saat harus membayar di kasir restoran atau pun pusat perbelanjaan saat kencan, sang cewek pastilah akan menunggu si cowok untuk membayarinya dalam segala hal. Juga sampai pada urusan persiapan pernikahan, biasanya keluarga si cewek akan membebankan sebagian besar pengeluaran pesta pernikahan pada pihak keluarga si cowok tanpa sedikitpun melihat dan berbelas kasihan terhadap kondisi ekonomi keluarga si cowok yang serba kekurangan.
Jadi, akhirnya aku memilih untuk lebih baik hidup jomblo tanpa menjalin komitmen dengan siapa pun, karena kemiskinanku. Dengan hidup jomblo, setidaknya aku tidak se-tertekan seperti orang miskin lain yang memaksakan diri untuk menikah walau sudah menyadari bahwa dirinya miskin ! Akibatnya sudah jelas tergambar, bila seseorang memaksakan diri menikah walau hidupnya miskin ! Sudah jelas tergambar, akan betapa menderitanya sang istri, dengan tubuh yang kurus, anak-anak yang kelaparan berperut buncit, karena busung lapar, tidak bisa bersekolah, sakit-sakitan dan belum lagi percekcokan dalam rumah tangga yang semakin menyakitkan hati ! Semua bersumber karena kemiskinan ! Aku justru akan semakin nelangsa dan merasa miskin dalam lubuk hatiku yang paling dalam, bila aku dengan kemiskinanku memaksakan diri untuk menikah, apalagi dengan wanita yang sama-sama miskin seperti aku ! Kalaulah aku menikah nanti, aku tidak mau menikah dengan wanita yang sama miskinnya seperti aku ! Kalaulah aku menikah nanti, aku ingin menikah dengan seorang wanita Eropa, Australia atau Amerika yang secara finansial kaya dan aman ! Kalau ada wanita kaya yang mau menikah dengan seorang penulis miskin seperti aku, barulah aku mau menyanggupinya ! Aku adalah seorang pria yang realistis dan tidak ingin menambah hidupku yang sudah susah menjadi semakin susah ! Karena itu untuk saat ini aku lebih memilih menjadi seorang jomblo !
Lebih baik sorangan wae ! Boro-boro untuk menikah, untuk menghidupi diri sendiri saja susah, apalagi harus menangggung istri dan kelak anak-anak ! Akhirnya aku terpaksa mudik ke rumah orang tuaku yang pensiunan, karena aku kehabisan uang dan tidak juga memperoleh pekerjaan baru ! Mungkin aku baru tertarik untuk menikah, bila ada seorang gadis bule kaya yang mau menerima aku dengan segala kemiskinanku serta dengan penuh keihlasan mau memodali aku untuk memulai usaha mandiri, tanpa mengungkit-ungkit dan merendahkan harga diriku sebagai seorang pria ! Mengapa aku memilih gadis bule sebagai wanita idaman yang aku idamkan sebagai istriku kelak ? Karena dalam budaya barat tidak mengenal istilah “peningset, mahar ataupun barang-barang hantaran” yang akan diberikan pada calon istri bila akan menikah ! Tidak seperti pada budayaku, budaya Jawa yang serba ribet penuh upacara, penuh dengan barang hantaran saat lamaran pernikahan maupun saat upacara pernikahan ! Bagi keluarga mempelai pria yang berasal dari keluarga mampu, tentu saja hal ini bukan menjadi masalah, namun bagi pria miskin seperti aku dan keluargaku, jelas hal ini adalah masalah besar ! Aku tidak mempunyai apapun yang bisa dipakai sebagai barang hantaran atau pun peningset saat menikah kelak, tidak juga uang tabungan ! Boro-boro untuk menabung, untuk hidup sehari-hari saja sudah pas-pasan, jadi aku sama sekali tidak bermimpi untuk menikah dengan menggunakan adat Jawa ! Bukannya mau melupakan budaya leluhur, namun aku merasa bahwa budaya pernikahan ala Barat dengan daftar tamu yang terbatas namun tetap dengan tata cara syariat Islam lebih praktis dan lebih hemat ! Mungkin tidak akan pernah ada gadis yang mau menikah denganku dengan cara seperti itu, jadi biarlah aku jomblo seumur hidupku ! Aku tidak peduli !! Bukankah memang tidak pernah ada cinta sejati di dunia nyata ini ? Yang ada hanyalah tipuan alam, simbiosis mutualisme, serta pengaruh hormon feromon yang dihasilkan kelenjar hidung yang sifatnya memabukkan dan menstimulasi setiap anak manusia yang berbeda jender untuk saling tertarik dan berpasang-pasangan dalam ikatan pernikahan ? Atau sekedar tinggal dan hidup bersama seperti yang banyak dijumpai di kota-kota besar ? Jadi kesimpulanku, memang tidak pernah ada cinta sejati itu. Cinta sejati yang ada hanyalah cinta tulus orang tua kepada anaknya, atau cinta dan bakti seorang anak kepada orang tuanya. Itulah cinta sejati !
Sungguh ironis, saat aku dan keluargaku hidup dalam kemiskinan, walau untunglah kami tetap bisa makan dari hasil pensiunan ayahku yang tidak seberapa, namun hati ini serasa teriris, saat saudara-saudara sepupuku (anak-anak dari saudara sepupu ibuku) yang bermukim di luar negeri mengirimkan foto-foto bahagia mereka dari berbagai penjuru dunia, dari Uppsala di Swedia, dari Amstelveen di Belanda, dari Den Haag di Belanda, dari Rotterdam di Belanda, dari Brussel di Belgia, dari Boston di Amerika, hingga California di Amerika. Tujuan utama mereka hanya satu, pamer kesuksesan dan kekayaan. Banyak dari saudara sepupuku yang sudah menikah, hidup berkecukupan dan mempunyai anak. Sementara aku tetap saja jomblo, dengan segala kemiskinanku dan ketidakberuntunganku ! Pernah aku mencoba berkirim surat kepada salah para pamanku di Swedia, hingga yang di Amerika, isinya aku meminta bantuan mereka agar aku bisa memperoleh permanent resident dan sponsorship dari mereka agar aku bisa hijrah dan bekerja mengadu nasib di Eropa atau Amerika. Namun ada saja alasan mereka yang intinya menolak memberikan bantuan. Lalu buat apa mereka tetap mengirimi kami surat kalau hanya untuk sekedar pamer tanpa bermaksud sedikitpun membantu kami keluar dari segala kesulitan hidup yang semakin lama semakin sulit di negeri yang merdeka ini ? Sering kali aku bermimpi dan mengkhayalkan diriku bila aku bisa menikahi seorang gadis bule kaya raya yang bisa membantuku untuk memperoleh permanent resident atau bahkan kewarganegaraan di Eropa atau Amerika, dan mungkin juga bisa memodali aku untuk membuka usaha, dan memulai kehidupan baru yang indah seperti yang kuimpi-impikan. Bukan cewek saja yang bisa matrek, cowok seperti aku pun bisa juga matrek, karena terdesak oleh beban kehidupan yang semakin lama semakin menghimpit dan menyesakkan dada. Aku hanya mencoba bertahan hidup dan berusaha meningkatkan taraf dan kualitas kehidupanku ! Aku hanya ingin membahagiakan orang tuaku dan tidak lagi terus menerus membebani mereka dengan keberadaanku ! Seandainya aku bisa hidup makmur di negeri ini, tentulah aku tidak akan mempunyai pikiran untuk hijrah dan mengadu nasib ke negeri lain ! Tapi impian tinggal impian, mana mungkin aku bisa hijrah ke luar negeri, sepeser uang pun aku tidak punya ! Sanak keluarga kaya hanyalah bertegur sapa di saat kita sedang bahagia dan berkecukupan, sementara saat kita sedang kesusahan, mana bisa mereka diharapkan ?
Aku tidak pernah peduli dengan pendapat orang lain terhadap diriku. Biar saja semua orang mencibir, menghina dan mengata-ngatai aku, aku tidak pernah ambil pusing. Toh, mereka bisanya hanya mengkritik saja, tanpa sepeser pun memberikan uang dan materi yang aku butuhkan untuk menyambung hidup dan menggapai angan-angan dan impianku ! Walau miskin, aku tetap berusaha tegar dan tetap memandang tegak ke depan, tanpa harus malu memandang orang-orang yang memandang rendah diriku ! Aku tetap percaya diri dan terus berusaha atas usahaku sendiri ! Aku tidak pernah mendengarkan omongan sinis orang lain ! Seperti pada buku yang pernah aku baca (aku lupa judulnya), salah satu sumber ketidakbahagiaan dan ketidak percayaan diri kita terhadap diri sendiri adalah apabila kita berusaha untuk menyenangkan semua orang dan juga apabila kita selalu saja mendengarkan semua pendapat dan kritikan pedas orang lain terhadap diri kita ! Jadi akhirnya aku memutuskan bahwa aku adalah aku ! Aku adalah diriku sendiri yang tanpa kepura-puraan, tanpa kemunafikan, dan aku selalu mendengarkan suara hatiku ! Aku tidak pernah menggubris apapun omongan buruk orang lain yang selalu berusaha merendahkan dan melemahkan semangatku ! Sudah terlalu banyak orang munafik di negeri ini, jadi aku tidak perlu menambahkan diriku dalam sederet daftar panjang orang-orang munafik yang pernah hidup dan tinggal di negeri ini ! Cukuplah aku menjadi diriku sendiri, dengan segala kekurangan dan keterbatasan, serta kemiskinanku !
10 November 2006
Dear diary,
Hari ini hari pahlawan, aku merenung, mengingat kembali jasa para pahlawan bangsa yang telah memperjuangkan kemerdekaan negeri ini dan juga mengingat kembali para leluhurku, para kakek moyangku, yang juga turut membela negeri ini dengan harta bendanya, sampai habis tak bersisa ! Telah banyak karya-karya tulisku yang dimuat oleh berbagai media. Walau aku bukan sarjana bidang teknologi informasi, tapi aku bisa membuktikan bahwa diriku mampu menulis artikel tentang teknologi, teknologi informasi komputer ! Aku adalah sarjana pertanian, sarjana agribisnis yang terbuang, tapi aku tetap berjuang untuk menulis apapun yang menarik perhatianku, yang aku pelajari sendiri secara otodidak ! Mulai dari artikel kuliner, hingga artikel tentang teknologi informasi ! Aku penulis serba bisa ! Aku tidak pernah membatasi kreativitasku ! Aku menulis apa saja yang aku sukai dan aku mau ! Aku akhirnya bisa menulis di bidang lain selain bidang kesarjanaanku ! Terbukti karya tulisku dimuat di majalah teknologi informasi terkemuka di negeri ini ! Karyaku juga dimuat di sebuah tabloid teknologi informasi terkemuka di negeri ini ! Aku bukanlah sarjana teknologi informasi ! Aku adalah sarjana pertanian ! Tapi mereka menulis di media mereka, bahwa aku adalah seorang pengamat IT !
12 Desember 2006
Dear diary,
Biarlah aku mengisi hari-hari dengan segala angan dan impianku, dengan tulisan-tulisanku. Biarlah aku menjadi seorang penulis saja ! Kalaulah tak ada yang bisa dikenang dariku, setidaknya orang pernah mengenalku lewat tulisan-tulisanku, lewat ilmu dan wawasan yang aku tuangkan dalam tulisan-tulisanku ! Sungguh sulitnya mencari pekerjaan di jaman sulit seperti ini, sehingga akhirnya aku pun memutuskan untuk menjadi seorang penulis. Dengan menulis, aku bebas mengungkapkan segala unek-unekku, pendapatku, wawasan dan cara pandangku, dan banyak hal lain yang bisa aku bagi lewat tulisan-tulisanku. Walau tetap miskin, namun paling tidak sesekali ada karyaku yang dimuat di berbagai media dan aku juga memperoleh sedikit honor sekedar untuk membiayai aktivitas dan hobiku menulis. Sampai saat ini aku masih menumpang hidup di rumah orang tua, sambil menjaga mereka, karena saat ini mereka sudah semakin tua. Jadi siapa lagi kalau bukan aku, sang anak tertua yang paling tidak menjaga dan merawat mereka, kedua orang tuaku yang telah mengasuhku sejak aku lahir ke dunia ini. Di usiaku yang sudah tiga puluh satu tahun ini, aku tetap menjadi si jomblo yang tanpa masa depan yang pasti.
Biarlah semua tahap kehidupan ini kujalani seperti air yang mengalir, mungkin pada suatu saat nanti aku akan bisa menemukan kebahagiaan yang aku cari-cari selama ini, kualitas hidup yang lebih baik, kesempatan berkeliling dunia dan bertemu dengan banyak orang, belajar budaya dan bahasa-bahasa asing yang begitu banyak di dunia ini, dan masih banyak hal lain yang tetap saja menjadi impian mustahil bagi seorang penulis miskin seperti aku. Untuk sementara ini biarlah aku sibuk dengan segala aktivitas menulisku dan berkumpul dengan teman-temanku sesama penulis. Aku tidak ingin berpaling lagi pada masa lalu, menangisi segala kenangan kejayaan nenek moyangku. Semua itu tidak ada gunanya. Aku hidup di masa kini. Dan aku harus bertahan !
“Life must goes on !”
“Aku harus terus berjuang untuk menata masa depanku, walau masa depan itu penuh ketidakpastian !”
“Aku bahagia dan hidup untuk hari ini !”
“Aku tidak akan menangisi hari kemarin ataupun khawatir akan hari esok !”
“Semua itu karena aku hidup hari ini dan aku akan menikmati apa saja yang bisa aku nikmati hari ini !”
“Untuk apa yang terjadi di hari esok, biarlah waktu dan takdir Tuhan yang menentukan !”
Aku sangat suka membaca. Satu-satunya tempat yang dapat menyejukkan hatiku adalah perpustakaan. Di sana aku bisa menenggelamkan diriku dengan ribuan bahan bacaan dan juga fasilitas internet gratis yang membantuku dalam mengirimkan karya-karya tulisku. Biarlah aku tenggelam dalam duniaku sendiri, dunia yang penuh dengan huruf dan tulisan. Saat ini aku aktif dalam organisasi komunitas para penulis di kotaku, Kota Malang. Aku juga secara sukarela menjadi seorang web master dari situs dan blog serta mailing list organisasi kami, organisasi komunitas penulis dari Kota Malang. Semuanya aku pelajari secara otodidak, mulai dari bagaimana proses membuat situs web hingga teknik menulis yang aku pelajari dari teman-temanku sesama penulis. Memang aku belum bisa dikatakan sebagai penulis profesional, namun setidaknya aku terus berusaha mengasah kemampuanku, demi bertahan hidup di negeri merdeka yang mayoritas rakyatnya masih hidup serba sulit seperti sekarang ini. Biarlah waktu yang akan menentukan nasib dan jalan hidupku. . . .
Semoga . . . . . .

Saturday, 26 May 2007

Mimpi

sebutir asa yang enggan jadi nyata...
tapi aku suka
sebuah mimpi yang mungkin tak pernah ada
tapi itu milliku

kau ada disana
kau milikku disana
aku bisa melihat matamu begitu dekat
satu dari seribu malam aku mendamba jiwamu

aku tak ingin bertanya
kapan mimpiku menjadi nyata
aku tau jawabannya
dan aku tak ingin merasa hambar karena tak ada kau

aku merasa wajahkku memerah
rasanya tidak seperti cokelat
tidak pula seperti es
rasanya hangat, rasanya tidak sama seperti yang aku bayangkan
itukah namanya sebuah ciuman?

aku masih bisa merasakan napasmu dekat
aku bisa melihat wajahmu begitu dekat
dan aku tau kau sempurna

Tuhan jangan lagi dia
jangan lagi
aku jatuh cinta pada orang yang sama lagi
aku jatuh cinta lagi dalam dunia nyata
padanya

keindahan sepi

Hari ini telah memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi saya. Hari-hariku yang biasanya dilingkupi dengan gaya hidup santai dalam menjalani aktifitas, seolah merasakan sapuan keras kehidupan yang benar-benar baru dan sedikit menjemukan.
Sedari pagi tadi saya mengalami beberapa peristiwa yang benar-benar harus saya hadapi sendirian tanpa kekasih dan teman dekat. mulai diomeli tetangga yang sedikit komplain dengan katifitas diskusi malamku dengan teman-teman, tidak bisa mandi pagi karena kehabisan air, sampai ditinggalkan temen-temen dengan seabrek urusan masing-masing. tinggal kesal dan gundah yang semakin menggoyah.
***Tapi di tengah kegundahan tersebut, aku juga merasakan betapa indahnya kalau setiap saat kita dapat hidup sendirian. tidak ada teman yang minta nasehat mengenai masalah pribadinya, juga tidak ada teman yang datang dengan penuh harap akan perhatian lebih, dan tidak ada kekasih yang selalu memohon perhatian lebih dan lebih. tapi kalau dipikir lagi, mereka semua bagiku adalah pelipur harianku. dengan kedatangan mereka aku menjadi tau bahwa aku suatu saat juga akan sama persis seperti mereka. ya suatu saat aku pasti akan butuh perhatian dan nasehat dari mereka. walaupun terkadang aku sendiri merasa aneh dengan hal-hal privaci tersebut.
Apalagi dengan kekasihku, bisa dibilang aku akan mati dalam kangen berat bila sehari saja tidak bertemu dengan dia. Dia mungkin sangat berbeda dengan kekasih teman-temanku, ya kekasihku sekarang adalah sosok yang boleh dikatakan "mentes", walau usianya masih muda jika dibanding denganku, namun kadang pemikiran dan himmahnya jauh meninggalkanku. ya aku yang menurut sebagian orang dikatakan dewasa, kadang menjadi anak kecil yang katro bila sudah berada di pelukan tenangnya. aduh kok malah sampe situ.
*** kembali lagi bahwa hari ini telah mengajariku tentang apa dan bagaimana kehidupan yang sebenarnya. kehidupan yang harus merasakan dialektika sosial dan persepsional, dan kehidupan yang akan bertahan hanya dengan kekuatan. Semoga hari ini menjadi pelajaran dan semangat baru untuk kehidupanku. Kehidupan yang memang untuk aku dan dia, kehidupan yang butuh dicinta dan menyinta, kehidupan yang butuh kata dan kerja, kehidupan yang nyata dan ada serta kehidupan yang rahmatan lil alamin.
sedikit kata untuk berbicara, sejuta makna untuk merasa.